Bagi pecinta budaya Jepang, natto mungkin bukan makanan asing. Hidangan berbahan dasar kedelai fermentasi ini dikenal sebagai salah satu makanan tradisional paling populer di Jepang — sekaligus paling kontroversial karena aroma dan teksturnya yang unik. Namun kini, para penggemarnya harus siap menghadapi kenyataan baru: harga natto di Jepang resmi naik.

Dua produsen besar natto, Takanofood dan Mizkan, mengumumkan kenaikan harga produk mereka mulai Juni mendatang. Kabar ini langsung memicu keluhan warga Jepang di media sosial, yang semakin frustrasi dengan lonjakan harga bahan pangan dalam beberapa tahun terakhir.
Apa Itu Natto?
Natto adalah kedelai yang difermentasi menggunakan bakteri Bacillus subtilis var. natto hingga menghasilkan tekstur lengket dengan serat mirip keju meleleh. Di Jepang, makanan ini sangat umum disantap sebagai menu sarapan bersama nasi hangat.
Meski terkenal karena aromanya yang tajam, natto ternyata memiliki banyak manfaat kesehatan. Kandungan vitamin K2 dan probiotiknya dipercaya baik untuk kesehatan jantung dan pencernaan.
Sekitar 80% masyarakat Jepang mengaku menyukai natto. Namun bagi orang asing, makanan ini sering dianggap “makanan ekstrem”. Banyak pengguna Reddit berbahasa Inggris menggambarkan aromanya seperti “tempat sampah busuk” dan rasanya seperti “keju kacang yang aneh”.
Harga Naik Karena Krisis Global
Produsen Okame Natto, Takanofood, mengumumkan kenaikan harga sekitar 15% akibat meningkatnya biaya energi dan bahan baku. Sementara Mizkan akan menaikkan harga seluruh produk natto mereka antara 6 hingga 20 persen.
Penyebab utamanya ternyata berkaitan dengan konflik di Iran. Krisis tersebut mengganggu pasokan naphtha ke Jepang — bahan turunan minyak bumi yang digunakan untuk membuat kemasan plastik makanan dan tray natto.
Sejak Maret, harga resin sintetis generik dilaporkan melonjak hingga 30%. Bahkan Mizkan sampai menghentikan sementara penjualan empat produk natto karena kesulitan mendapatkan kemasan yang dibutuhkan.
Jepang Mulai Kehilangan Era “Makanan Murah”?
Kenaikan harga natto hanyalah sebagian kecil dari gelombang inflasi pangan yang sedang melanda Jepang. Dalam dua tahun terakhir, harga beras, telur, sayuran, hingga kebutuhan sehari-hari terus mengalami kenaikan.
Sebagian produsen juga mulai menerapkan shrinkflation — ukuran produk diperkecil tetapi harga tetap sama. Kondisi ini semakin terasa berat karena upah pekerja Jepang relatif stagnan selama hampir tiga dekade terakhir.
Data Teikoku Databank menunjukkan bahwa tahun ini sudah ada lebih dari 6.000 produk makanan dan minuman yang mengalami kenaikan harga, dengan rata-rata kenaikan mencapai 15%.
Jika krisis bahan baku kemasan terus berlanjut, sekitar 72% perusahaan Jepang mengaku kemungkinan akan kembali menaikkan harga produk mereka.
Warga Jepang Mulai Frustrasi
Di media sosial X (Twitter), banyak warga Jepang mulai khawatir bahwa era makanan murah di Jepang benar-benar akan berakhir.
Selama ini Jepang dikenal sebagai negara dengan harga makanan yang relatif stabil dan terjangkau. Bahkan semangkuk ramen masih banyak dijual di bawah 1.000 yen.
Namun kini, masyarakat mulai merasakan tekanan biaya hidup yang semakin berat.
“Bukan cuma kedelai yang mahal,” tulis salah satu pengguna X. “Biaya logistik, kemasan, energi — semuanya ikut naik. Barang murah di bawah 100 yen sekarang makin sulit dipertahankan.”
Sebagian netizen juga menyalahkan pemerintah Jepang yang dianggap lambat mengambil langkah untuk membantu masyarakat menghadapi lonjakan harga pangan.
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, sebelumnya pernah menjanjikan penghapusan pajak konsumsi untuk bahan makanan saat kampanye. Namun hingga kini, kebijakan tersebut belum juga terealisasi.
Kenaikan harga natto mungkin terlihat sepele bagi sebagian orang. Tetapi bagi masyarakat Jepang, ini menjadi simbol bahwa biaya hidup di Negeri Sakura sedang berubah drastis.




