Apa Hubungan Sukses Industri dengan Kucing Jepang? Penjelasannya Ada di Catnomics

Apa Hubungan Sukses Industri dengan Kucing Jepang? Penjelasannya Ada di Catnomics

Kamu pasti pernah lihat penggunaan kucing Jepang sebagai pendorong bisnis. Hal ini sering disebut catnomics. Beberapa bulan terakhir, istilah catnomics menjadi perhatian media bisnis seperti The Guardian, WION dan bahkan Kompas.com.

Apa Itu Catnomics di Jepang?

Catnomics dapat diartikan sebagai industri yang berhubungan dengan budaya kucing. Di Jepang, berbagai bisnis soal kucing tergolong sukses. Mulai dari bisnis peliharaan kucing, café kucing, merchandise kucing dan bahkan komik soal kucing berhasil sukses!

Terhitung pada 2026, industri terkait kucing di Jepang menyumbang lebih dari 3 triliun Yen. Ini bukan angka kecil bagi perekonomian Jepang! Banyak pihak sudah diuntungkan berkat kucing-kucing di sana.

Pengaruh kucing memang terlihat dari segi sosial dan budaya Jepang. Kamu yang pernah lihat patung Maneki-neko di Jepang pasti paham soal ini! Sejak dulu, Jepang memang punya budaya kucing dan sampai sekarang dikembangkan menjadi bisnis sukses. Jadi, gak salah kalau istilah fenomena sukses bisnis seputar kucing ini disebut catnomics!

Berbagai Pengaruh Kucing Dalam Berbagai Aspek di Jepang

Tema kucing dalam berbagai aspek kehidupan Jepang memang sudah ada. Gak cuma dalam bisnis, soal budaya kesenian dan adat saja, kucing juga terlibat. Makanya gak aneh kalau kamu temukan kucing Jepang jadi icon unggulan di toko suvenir, kafe, makanan, sampai anime dan novel.

Bahkan ada kawasan seperti Yanaka Ginza di Tokyo yang dijuluki “kota kucing”. Di sana, wisatawan bisa menemukan berbagai barang bertema kucing seperti magnet, sumpit, kartu pos, sampai hanko bergambar kucing.

Kok bisa pengaruhnya sebesar itu ya? Hal ini bisa dilihat dari kepercayaan orang Jepang. Kucing dipercaya masuk ke Jepang sejak periode Nara sekitar abad ke-8 lewat hubungan dengan Tiongkok. Dulu, kuil Buddha memelihara kucing untuk melindungi naskah penting dari tikus.

Dari situlah kucing mulai dianggap punya aura mistis dan pembawa keberuntungan. Makanya, sampai sekarang patung maneki neko masih sering ditemukan di toko dan restoran Jepang. Patung kucing dengan tangan terangkat atau Maneki-neko ini dipercaya bisa membawa rezeki dan keberuntungan.

Selain dari kepercayaan, pengaruh kucing juga terasa kuat di dunia sastra Jepang. Novel terkenal seperti I Am a Cat bahkan menjadikan kucing sebagai karakter utama cerita. Banyak karya Haruki Murakami juga sering memakai simbolisme kucing di dalam novelnya.

Dari segi sosial, efek kucing bisa dilihat dari para pemilik peliharaan ini. Sekarang, jumlah kucing peliharaan di Jepang juga terus meningkat. Bahkan jumlahnya sudah jauh lebih banyak dibanding anjing.

Karena itu, bisnis bertema kucing berkembang sangat besar. Mulai dari cat cafe, merchandise, makanan hewan, sampai buku foto kucing, semuanya punya pasar yang kuat di Jepang. Gak aneh emang, soalnya angka pecinta kucing di sangatlah besar!

Ketertarikan Pengamat Bisnis Seputar Catnomics Jepang

Walaupun kucing Jepang mendorong industri besar, banyak yang gak paham apa itu catnomics dan bagaimana hal tersebut bisa sukses. Di negara lain, catnomics tidak terjadi walaupun penggemar kucing di negara itu sangat besar.

Sebagai contoh, kamu bisa lihat fenomena kucing di Turki! Di negara ini, kucing liar di pelihara dan dirawat masyarakat secara suka rela. Jumlah kucing liar yang sehat di Turki sangat tinggi. Fenomena ini sudah umum dan bahkan dibahas oleh channel YouTube Kompas:

Berita tersebut hanya sebagian kecil dari realitas banyaknya kucing di Turki. Kalau mau lihat lebih dekat lagi, kamu bisa cek video kumpulan kucing berikut ini dari Turki:

Dari banyak bukti tersebut, Turki adalah negara yang memang suka kucing. Namun, catnomics di Turki masih jauh dengan Jepang. Jadi, research seputar catnomics di Jepang menarik dipelajari oleh pengamat bisnis.

Sampai saat ini, rahasia kesuksesan catnomics di Jepang masih belum terjawab. Sebagian besar hanya terbatas pada budaya, social dan trend soal kucing di Jepang. Namun, penyebab kesuksesan yang lebih kongkrit belum bisa dibuktikan.

Tantangan Catnomics di Jepang Kedepannya

Walaupun catnomics tergolong sukses, dibalik industri ini Jepang menghadapi tantangan demografi. Populasi yang menua dan terus menurun membuat jumlah pemilik hewan peliharaan berpotensi ikut menurun di masa depan. Fenomena itu bahkan sudah terlihat di beberapa pulau kucing seperti Aoshima yang mulai kehilangan penduduk dan populasi kucingnya.

Walaupun kucing Jepang di lokasi itu menjadi daya tarik pengunjung, tetap saja jumlahnya tidak terkontrol. Saat jumlah kucing terlalu banyak, warga yang merawat mereka juga kewalahan. Aspek lain seperti ekosistem yang tidak seimbang juga terjadi di lokasi itu.

Semoga kedepannya pemerintahan Jepang mulai perhatikan tempat-tempat yang perlu bantuan tersebut. Kalau kucing Jepang jadi terlantar akibat kurangnya populasi manusia, pasti sedih juga lihat kucing terlantar bukan?

Gimana? Sudah jelas bahasan soal catnomics dan peranan sukses industri kucing Jepang? Semoga info ini menjadi bermanfaat bagi kamu yang tertarik belajar seputar Jepang!

Kredit Gambar: Wikipedia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 KAMPUNGJEPANG.COM