Budaya Gaming di Jepang Kok Beda Banget dari Korea Selatan dan China? Berikut Penjelasannya!

Budaya Gaming di Jepang Kok Beda Banget dari Korea Selatan dan China? Berikut Penjelasannya!

Kalau mendengar kata budaya gaming di Jepang, mungkin yang langsung terbayang adalah Nintendo, PlayStation, Pokémon, Final Fantasy atau Dragon Quest. Jepang memang sudah puluhan tahun dikenal sebagai salah satu pusat industri game dunia.

Namun ada aspek yang menarik! Jepang punya jutaan gamer dan industri game yang sangat besar, tetapi ketika dibandingkan dengan Korea Selatan dan China, cara masyarakatnya menikmati game terasa berbeda.

Jepang punya kompetisi game yang kuat, tetapi tidak selalu berbentuk esports seperti MOBA, shooter atau battle royale. Lalu, sebenarnya seperti apa budaya gaming di Jepang yang berbeda ini?

Jepang Memang Negara yang Sangat Suka Bermain Game

Kita mulai dari satu fakta penting. Jepang bukan negara yang masyarakatnya kurang tertarik bermain game. Menurut data Computer Entertainment Supplier’s Association (CESA) dalam CESA Game Industry Report 2025, jumlah gamer di Jepang pada 2024 mencapai sekitar 54,75 juta orang. Angka ini memang sedikit turun dari 55,53 juta pada 2023, tetapi tetap menunjukkan besarnya pasar gaming Jepang.

Bisa dibilang, gaming di Jepang sudah seperti budaya yang kental pada umumnya. Mulai dari anak-anak dan orang dewasa di sana, pasti pernah konsumsi game. Selain itu, aspek gaming juga menyebar di banyak aspek lain seperti interaksi sosial, event dan juga lapangan pekerjaan di sana.

Menariknya, game di Jepang juga tidak hanya dimainkan melalui satu perangkat. CESA mencatat sekitar 42,78 juta orang bermain mobile game, 29,51 juta menggunakan konsol, dan 14,52 juta bermain melalui PC pada 2024. Satu orang dapat masuk ke lebih dari satu kategori karena bisa menggunakan beberapa platform.

Angka tersebut menunjukkan bahwa mobile gaming masih menjadi bagian sangat besar dari budaya gaming di Jepang. Jadi, kalau ada anggapan orang Jepang kurang tertarik bermain game karena tidak memiliki budaya gaming yang kuat, datanya justru menunjukkan hal sebaliknya.

Budaya gaming mereka sangat besar. Hanya saja, bentuknya tidak selalu sama dengan negara tetangga. Jadi, jangan kaget saat membandingkan game kompetisi di Jepang dengan game esports ada umumnya!

Preferensi Gamer Jepang Tidak Selalu Mengarah ke Esports

Di sinilah perbedaannya mulai terlihat. Jepang memiliki sejarah panjang dengan game console, arcade, RPG, puzzle, rhythm game dan fighting game. Banyak permainan tersebut bisa dimainkan sendiri, bersama teman, atau secara kompetitif tanpa harus masuk ke ekosistem esports profesional.

Game seperti Pokémon, Animal Crossing, Dragon Quest dan berbagai RPG Jepang menunjukkan kuatnya pasar game yang mengutamakan karakter, cerita, eksplorasi dan pengalaman bermain.

Namun bukan berarti orang Jepang tidak suka kompetisi. Menurut survei Nielsen mengenai penggemar esports di China, Jepang dan Korea Selatan, fighting game menjadi genre yang paling banyak diikuti penggemar esports di Jepang, yaitu 36%. Sports game berada di 31%, sedangkan MOBA 25% dan shooter 24%.

Bandingkan dengan China. Dalam survei yang sama, MOBA menjadi genre yang sangat dominan dengan 75% penggemar esports China mengikuti game dari genre tersebut. Korea Selatan memiliki kecenderungan berbeda, dengan RTS mencapai 51%.

Perlu dicatat, survei Nielsen tersebut merupakan data lama sehingga tidak tepat digunakan sebagai gambaran mutlak mengenai kondisi esports Jepang saat ini. Namun data tersebut tetap menarik untuk melihat bagaimana preferensi gamer Jepang secara historis berbeda dari dua pasar besar Asia Timur lainnya.

Mengapa Esports Jepang Tidak Sebesar China dan Korea Selatan?

Pertanyaannya kemudian menjadi lebih menarik. Kalau orang Jepang suka kompetisi game, kenapa esports di Jepang tidak sebesar China dan Korea Selatan?

Salah satu jawabannya adalah sejarah industri game Jepang. Jepang sudah memiliki budaya console dan arcade yang kuat jauh sebelum esports modern berkembang. Kompetisi game di Jepang tidak harus dilakukan melalui pertandingan MOBA atau shooter profesional.

Fighting game adalah contoh paling jelas. Game seperti Street Fighter dan Tekken memiliki hubungan yang sangat kuat dengan budaya arcade Jepang. Pemain bisa datang ke game center, memilih mesin permainan, bertanding dengan orang lain dan mengembangkan kemampuan mereka.

Jadi, budaya kompetisi sebenarnya sudah ada. Hal Yang berbeda adalah format kompetisinya! Ketika esports global berkembang dengan MOBA, FPS dan battle royale, China dan Korea Selatan memiliki ekosistem yang sangat kuat untuk genre-genre tersebut.

Jepang tetap mengembangkan esports, tetapi harus bersaing dengan budaya gaming domestik yang sejak awal sudah sangat beragam. Ini juga menjelaskan mengapa mengatakan Jepang “tidak punya esports” tentu keliru.

Menurut data terbaru dari Japan Esports Union (JESU), pasar esports domestik Jepang mencapai sekitar ¥16,1 miliar pada 2024, sementara jumlah penggemarnya diperkirakan sekitar 9,67 juta orang. Artinya, esports Jepang tetap berkembang. Hanya saja, esports bukan satu-satunya bentuk kompetisi game di Jepang.

Game di Jepang Tidak Selalu Dimainkan di Rumah

Ada hal lain yang membuat budaya gaming di Jepang menarik. Game tidak selalu identik dengan duduk di depan televisi atau PC di kamar. Jepang memiliki sejarah game arcade yang panjang. Game center menjadi tempat orang memainkan fighting game, rhythm game, puzzle, racing dan berbagai permainan lainnya.

Bahkan kompetisi sederhana seperti mengejar skor tertinggi bisa menjadi pengalaman bermain yang berbeda dari esports profesional. Inilah mengapa game seperti rhythm game atau puzzle game dapat mempunyai komunitas yang serius tanpa harus menjadi bagian dari liga esports global.

Seseorang bisa bermain untuk mendapatkan skor terbaik, menantang teman, atau sekadar menikmati permainan setelah pulang sekolah dan bekerja. Batas antara “bermain untuk hiburan” dan “bermain secara kompetitif” akhirnya menjadi lebih fleksibel.

Mobile Game Tetap Menjadi Kekuatan Besar Jepang

Jangan lupa dengan satu bagian yang sangat besar dari industri Jepang, yaitu mobile game. CESA mencatat 42,78 juta gamer mobile di Jepang pada 2024. Jumlah tersebut jauh lebih besar dibandingkan jumlah pengguna PC gaming yang mencapai 14,52 juta.

Secara global pun mobile merupakan platform yang sangat besar. Dalam laporan CESA, pasar game global 2024 mencapai lebih dari ¥31 triliun, dengan mobile game menyumbang sekitar 60% dari keseluruhan pasar.

Angka ini membantu menjelaskan mengapa membandingkan gaming Jepang hanya melalui esports bisa menghasilkan kesimpulan yang keliru. Seorang pekerja Jepang bisa saja tidak pernah menonton turnamen League of Legends atau Valorant, tetapi tetap memainkan game mobile setiap hari.

Orang lain mungkin bermain Pokémon atau RPG di console. Ada juga yang rutin pergi ke game center untuk bermain rhythm game atau fighting game. Semua aktivitas tersebut tetap merupakan bagian dari budaya gaming di Jepang.

Jadi, Jepang bukan negara yang kalah dalam urusan gaming. Jepang hanya mempunyai cara sendiri dalam menikmati permainan. Gak jarang, Jepang menghasilkan trend unik tersendiri dalam aspek gaming hingga jadi viral! Contoh saja, tren genre Soulslike yang dipopulerkan oleh Dark Souls tentu asalnya dari Jepang terlebih dahulu!

Kalau Korea Selatan dan China sangat menonjol dalam kompetisi esports berskala besar, Jepang memiliki kekuatan lain yang tidak kalah menarik: console, mobile, arcade, RPG, fighting game, puzzle, rhythm game dan berbagai game kompetitif non-esports yang hidup berdampingan dalam satu budaya gaming.

Mungkin inilah alasan mengapa budaya gaming di Jepang terasa berbeda. Mereka tidak harus memilih antara game untuk hiburan dan game untuk kompetisi. Keduanya bisa berjalan bersamaan.

Kredit Gambar: Jezael Melgoza/Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 KAMPUNGJEPANG.COM